<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399</id><updated>2011-11-07T21:37:42.569+07:00</updated><category term='inspirasi'/><category term='spiritual'/><title type='text'>LIFE, INSPIRING, SPIRITUAL</title><subtitle type='html'>Mengenai Kehidupan, inspirasi dan Spiritual</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-1455781561468097777</id><published>2010-10-28T13:04:00.002+07:00</published><updated>2010-10-28T13:16:48.955+07:00</updated><title type='text'>MBAH MARIJAN</title><content type='html'>Indonesia sedang berduka , musibah melanda dimana-mana, ada wasior, mentawai, banjir dijakarta dan gunung merapi diyogya, semua merupakan tanda-tanda alam yang sedang berbisik, bagi para pencari itu semua merupakan pertanda nyanyian alam bagi kita semua itu merupakan musibah yang bisa diartikan teguran ataupun ujian untuk kenaikan kelas tergantung kita memandangnya.&lt;br /&gt;   namun dibalik itu semua ada sosok luar biasa, seorang mbah marijan, yang diberi amanah untuk menjaga gunung merapi, dia tidak mau untuk mengungsi dan lebih memilih untuk tetap memegang teguh amanah yang telah diberikan kepadanya walaupun nyawa taruhannya, adakah saat ini pemimpin kita mempunyai sifat seperti seorang mbah marijan, seorang rakyat jelata tetapi memiliki sikap pemimpin. walaupun mbah marijan pernah menjadi bintang iklan suatu produk tetapi dia memilih kesederhaan,kemapanan dari hasil iklan juga dibagikan kepada tetangga sebelah.&lt;br /&gt;   Dibalik kontroversi kematiannya walaupun mungkin ada yang berpendapat beliau mati konyol ataupun seperti pahlawan ada sebuah sifat yang bisa kita teladani. mudah2an masih ada pemimpin2 negeri ini yang memiliki sifat2 baik, sehingga rakyat bisa mendapatkan kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selamat jalan mbah marijan semoga amal ibadahmu diterima oleh ALLAH SWT, Amin , Alfatihah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-1455781561468097777?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/1455781561468097777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=1455781561468097777' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1455781561468097777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1455781561468097777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/10/mbah-marijan.html' title='MBAH MARIJAN'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-1834706110530690257</id><published>2010-10-25T12:44:00.002+07:00</published><updated>2010-10-25T12:53:08.433+07:00</updated><title type='text'>Bermain Dengan Sepenuh Hati</title><content type='html'>Dalam salah satu acara pencarian bakat di salah satu stasiun TV ada seorang juri yang menanyakan , " untuk tampil seperti itu berapa lama kamu latihan" dan dijawab oleh salah satu finalis tersebut dengan " satu hari" , si juri pun heran hanya dengan latihan sehari bisa menampilkan penampilan yang luar biasa dan kembali finalis tersebut menjawab "kami bermain dengan sepenuh hati" , jawaban yang luar biasa dalam dari seorang finalis yang tadinya bukan siapa2 , perjalan panjang kehidupan yang telah mereka lalu ternyata begitu membantu mereka dalam berhadapan dengan para penonton. &lt;br /&gt;  Dengan bermain sepenuh hati maka kita akan selalu menjiwai apapun yang kita lakukan, kita tidak terlalu memikirkan hasil tetapi lebih kepada proses, sehingga apapun hasilnya kita akan menerimanya, karena kita lebih menggunakan hati. sehingga menang-kalah, bagus-jelek hanyalah buah dari pikiran kita , dengan menggunakan hati kita bisa lebih kreatif dan produktif, apapun itu dalam kehidupan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  sudahkah kita telah bermain dengan sepenuh hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-1834706110530690257?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/1834706110530690257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=1834706110530690257' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1834706110530690257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1834706110530690257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/10/bermain-dengan-sepenuh-hati.html' title='Bermain Dengan Sepenuh Hati'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-8730207587948984873</id><published>2010-07-30T09:42:00.001+07:00</published><updated>2010-07-30T09:45:44.326+07:00</updated><title type='text'>Memberdayakan bukan Menghukum</title><content type='html'>Berikut sebuah tulisan seputar pendidikan kiriman dari teman, sayang bila tidak saya share.&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==================================++++++++==============================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?" "Dari Indonesia," jawab&lt;br /&gt;saya. Dia pun tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Menghukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar- benar siap.&lt;br /&gt;Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh&lt;br /&gt;keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan&lt;br /&gt;karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi&lt;br /&gt;penilaian yang tidak objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melahirkan Kehebatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RHENALD KASALI&lt;br /&gt;Ketua Program MM UI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-8730207587948984873?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/8730207587948984873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=8730207587948984873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/8730207587948984873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/8730207587948984873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/07/memberdayakan-bukan-menghukum.html' title='Memberdayakan bukan Menghukum'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-447764989037044549</id><published>2010-07-12T11:28:00.002+07:00</published><updated>2010-07-12T11:39:21.025+07:00</updated><title type='text'>Piala Dunia 2010</title><content type='html'>Piala Dunia 2010.&lt;br /&gt;  Tadi malam atau dini hari tadi (12/07/10) adalah final piala dunia 2010 yang telah 1 bulan penuh digelar di Afrika Selatan yang mempertemukan keseblasan Belanda dan Spanyol yang merupakan juara piala dunia 2008, perjalanan masing2 keseblasan dapat kita lihat mulai dari penyisihan sampai semifinal, keseblasan spanyol yang merupakan salah satu favorit juara pada pertandingan pertama ternyata mengalami kekalahan, akan tetapi mereka dapat bangkit dan akhirnya menjadi juara piala dunia 2010, identik dengan kehidupan kita sehari-hari kalah-menang adalah biasa yang terpenting adalah kita dapat memetik hikmah dibalik sesuatu peristiwa. tidak semua yang kita inginkan akan terpenuhi bagaimanapun juga semua yang terjadi pada kehidupan kita adalah yang terbaik menurut Tuhan, bukan menurut kita, dikarenakan kita terlalu menggunakan rasio atau akal menurut hawa nafsu kita.&lt;br /&gt;  Para pendukung keseblasan masing2 larut dalam kegembiraan bagi yang menang maupun kecewa/sedih bagi yang kalah, itu semua adalah dinamika kehidupan, ada kalanya kita bergembira ada kalanya kita dirundung kesedihan. selamat kepada para pemengang, karena besok mereka harus mempertahankan kemenangan tersebut dan pagi yang belum beruntung selamat berjuang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-447764989037044549?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/447764989037044549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=447764989037044549' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/447764989037044549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/447764989037044549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/07/piala-dunia-2010.html' title='Piala Dunia 2010'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-1104241263283451958</id><published>2010-06-14T16:31:00.002+07:00</published><updated>2010-06-14T16:40:13.074+07:00</updated><title type='text'>stay hungry stay foolish</title><content type='html'>ini kisah pidato steve job yang diterjemahkan didalam bahasa indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Stay Hungry, Stay Foolish - by Steve Jobs&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Ini adalah terjemahan dari pidato Steve Jobs, CEO dari Apple Inc., di wisuda Universitas Stanford, Amerika Serikat, pada tanggal 12 Juni 2005).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik&lt;br /&gt;Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena "kecelakaan" dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab: "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangka n. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.&lt;br /&gt;Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu&lt;br /&gt;mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun&lt;br /&gt;sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun asangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita Ketiga Saya: Kematian&lt;br /&gt;Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah&lt;br /&gt;bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut&lt;br /&gt;konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:&lt;br /&gt;Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.&lt;br /&gt;Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah&lt;br /&gt;satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: "Stay Hungry. Stay Foolish." (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru,&lt;br /&gt;saya harapkan Anda juga begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stay Hungry. Stay Foolish."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-1104241263283451958?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/1104241263283451958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=1104241263283451958' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1104241263283451958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1104241263283451958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/06/stay-hungry-stay-foolish.html' title='stay hungry stay foolish'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-1488688558830291369</id><published>2010-06-14T16:23:00.001+07:00</published><updated>2010-06-14T16:29:39.714+07:00</updated><title type='text'>Harapan</title><content type='html'>Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.&lt;br /&gt;Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah Damai."&lt;br /&gt;"Namun manusia tak mampu menjagaku. Maka lebih baik aku mematikan diriku&lt;br /&gt;saja!”&lt;br /&gt;Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin pertama padam.&lt;br /&gt;Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”&lt;br /&gt;“Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku. Tak ada gunanya&lt;br /&gt;aku tetap menyala.”&lt;br /&gt;Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.&lt;br /&gt;Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara: ”Aku adalah Cinta.”&lt;br /&gt;“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan&lt;br /&gt;mengganggapku berguna. Mereka saling membenci. Bahkan membenci mereka yang&lt;br /&gt;mencintainya, membenci keluarganya.”&lt;br /&gt;Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.&lt;br /&gt;Tanpa terduga…Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat&lt;br /&gt;ketiga lilin telah padam.&lt;br /&gt;Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh apa yang terjadi?? Kalian&lt;br /&gt;harus tetap menyala. Aku takut akan kegelapan!”&lt;br /&gt;Lalu ia mengangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;Lalu dengan terharu lilin&lt;br /&gt;keempat berkata:&lt;br /&gt;"Jangan takut. Janganlah menangis. Selama aku masih ada dan menyala, kita&lt;br /&gt;tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya."”&lt;br /&gt;Akulah HARAPAN.“&lt;br /&gt;Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan&lt;br /&gt;kembali ketiga lilin lainnya.&lt;br /&gt;Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN.&lt;br /&gt;Jangan sampai kita kehilangan "HARAPAN"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-1488688558830291369?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/1488688558830291369/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=1488688558830291369' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1488688558830291369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1488688558830291369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/06/harapan.html' title='Harapan'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-1634000846561540095</id><published>2010-06-13T10:23:00.000+07:00</published><updated>2010-06-13T10:26:08.176+07:00</updated><title type='text'>MENJADI SEPERTI MUTIARA</title><content type='html'>Air mata mutiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek."anakku, " kata sang ibu sambil bercucuran air mata, " Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga ibu tak bisa menolong mu. "Si ibu terdia, sejenak, " sakit sekali, aku tahu anak ku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.kuatkan hati mu, jangan terlalu lincah lagi.kerahkan semangat mu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit.balutlah pasir itu dengan getah perut mu.hanya itu yang bisa kau perbuat ", kata ibunya dengan sendu dan lembut.Anak kerangpun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang.kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mataia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa di sadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya.makin lama makin halus.rasa sakitpun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar.rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.Ya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.penderitaannya berubah menjadi mutiara ; air matanya berubahmenjadi sangat berharga. dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga dari pada sejuta kerang lain yang Cuma di santap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.Teman,Cerita diatas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadi " kerang biasa " menjadi " kerang luar biasa".Karena itu dapat di pertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah " orang biasa " menjadi " orang luar biasa ".Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami.ada dua pilihan sebenarnyaYang bisa mereka masuki ; menjadi ' kerang biasa ' yang di santap orang, atau menjadi ' kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan Pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yag sukses lebih sedikit dari orang yang ' biasa-biasa saja'.Mugnkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan , patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu, cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hati mu.." air mataku di perhitungkan Tuhan.. dan penderitaan ku ini akan mengubah diri ku menjadi mutiara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-1634000846561540095?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/1634000846561540095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=1634000846561540095' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1634000846561540095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1634000846561540095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/06/menjadi-seperti-mutiara.html' title='MENJADI SEPERTI MUTIARA'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-3478602392943557775</id><published>2010-06-13T10:21:00.001+07:00</published><updated>2010-06-13T10:23:25.866+07:00</updated><title type='text'>LILIN LILIN KECIL</title><content type='html'>Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.&lt;br /&gt;Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah Damai."&lt;br /&gt;"Namun manusia tak mampu menjagaku. Maka lebih baik aku mematikan diriku&lt;br /&gt;saja!”&lt;br /&gt;Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin pertama padam.&lt;br /&gt;Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”&lt;br /&gt;“Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku. Tak ada gunanya&lt;br /&gt;aku tetap menyala.”&lt;br /&gt;Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.&lt;br /&gt;Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara: ”Aku adalah Cinta.”&lt;br /&gt;“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan&lt;br /&gt;mengganggapku berguna. Mereka saling membenci. Bahkan membenci mereka yang&lt;br /&gt;mencintainya, membenci keluarganya.”&lt;br /&gt;Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.&lt;br /&gt;Tanpa terduga…Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat&lt;br /&gt;ketiga lilin telah padam.&lt;br /&gt;Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh apa yang terjadi?? Kalian&lt;br /&gt;harus tetap menyala. Aku takut akan kegelapan!”&lt;br /&gt;Lalu ia mengangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;Lalu dengan terharu lilin&lt;br /&gt;keempat berkata:&lt;br /&gt;"Jangan takut. Janganlah menangis. Selama aku masih ada dan menyala, kita&lt;br /&gt;tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya."”&lt;br /&gt;Akulah HARAPAN.“&lt;br /&gt;Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan&lt;br /&gt;kembali ketiga lilin lainnya.&lt;br /&gt;Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN.&lt;br /&gt;Jangan sampai kita kehilangan "HARAPAN"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-3478602392943557775?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/3478602392943557775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=3478602392943557775' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3478602392943557775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3478602392943557775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/06/lilin-lilin-kecil.html' title='LILIN LILIN KECIL'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-7510298045881644176</id><published>2010-01-22T10:31:00.003+07:00</published><updated>2010-01-22T10:35:41.131+07:00</updated><title type='text'>Menjelang Makrifat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/S1kdBTjF3II/AAAAAAAAACo/CSD5Fretvis/s1600-h/mm.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/S1kdBTjF3II/AAAAAAAAACo/CSD5Fretvis/s320/mm.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5429402734036376706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judulbuku :MENJELANG MA'RIFAT&lt;br /&gt;Alih bahasa;KH.M. LUKMAN HAKIM MA&lt;br /&gt;Penerbit :CAHAYA SUFI Jl:bekasi timur IV No;15 jati Negara Jakarta Timur&lt;br /&gt;Judul asli :kitab haalatu ahlil haqiqah ma'alah&lt;br /&gt;Karangan :syeikh ahmad ar rifa'iy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekilas tentang buku MENJELANG MA'RIFAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana para sufi besar,Syeikh ArRifa'iy telah menancapkan tonggak sejarah thariqah sufi yang luar biasa.kelak kita kenal dengan thariqah Rifa'iyah yang banyak tersebar di wilayah afrika dan asia,dan telah membentuk kepribadian khas yang signifikan bagi para penempuh(salikin ila allah).Karena itu beliau diberi kemampuan menyerap hidangan jiwa yang langsung dari sang nabi,rasulullah SAW.dan itu tertuang dalam tuisan yang begitu sempurna menjadi mutiara mutiara agung yang mencerahkan jiwa,menghancurkan batu batu keras yang bertengger bagai berhala dalam qalbu setiap hamba,sehingga memudahkan para penempuh jalan alah swt"thawaf" mengelilingi "baitullah"dalam qalbunya,dan bertemu dalam"jantung liqo 'allah yang menakjubkan.Tidak berlebihan jika buku yang berasal dari kitab haalatu ahlil haqiqah ma'alah diberi judul MENJELANG MA'RIFAT.Karena urgensinya yang begitu dalam menghantar kita pada gerbang ma'rifatullah.Bagaimana tidak? membaca buku ini,seakan kita diajari memahami sunnah nabi dalam perspektif hakikat,sekaligus menepis tudingan kaum munafiqin yang senantiasa menyeret kejurang jahiliyah.pun juga membaca buku ini memerlukan kejernihan bathin,kelapangan jiwa,kebiningan ruh,dan kecahayaan rahasia bathin(sirr)semoga ALLAH SWT melimpahkan anugrah dan taufiqNYA kepada kita semua yang sedang menempuh jalanNYA yang lurus menuju istana yang agung.buku yang menyejukkan hati,menyadarkan kealpaan dan menghantar ke pintu ma'rifatullah.membacanya,serasa kita "mengaji" dihadapan baginda Rasul SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;miilikilah segera buku yang sangat berharga ini sebuah karya monumental karya syeikh ahmad arrifa'iy&lt;br /&gt;untuk informasi dan pemesanan hubungi;&lt;br /&gt;Bagian sirkulasi/pemasaran Redaksi Majalah CAHAYA SUFI&lt;br /&gt;jL.Bekasi timur IV No:15 Jati Negara jakarta - timur&lt;br /&gt;a/n:ASMU'IE SYADZALI HP:081380020999&lt;br /&gt;BISA DIKIRIM KE SELURUH WILAYAH INDONESIA(DITAMBAH ONGKOS KIRIM)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-7510298045881644176?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/7510298045881644176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=7510298045881644176' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/7510298045881644176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/7510298045881644176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2010/01/menjelang-makrifat.html' title='Menjelang Makrifat'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/S1kdBTjF3II/AAAAAAAAACo/CSD5Fretvis/s72-c/mm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-6181371510325253757</id><published>2009-05-11T13:25:00.000+07:00</published><updated>2009-05-11T13:27:03.443+07:00</updated><title type='text'>Hikayat Sang Pena</title><content type='html'>Hikayat Sang Pena &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang fakir yang sedang dalam perjalanan mencari penerangan melihat secarik kertas dengan coretan-coretan di atasnya.&lt;br /&gt;"Mengapa," tanya sang fakir, "kau menghitami wajahmu yang putih-bersih?"&lt;br /&gt;"Tidak adil kau menuduhku melakukannya," jawab sang kertas. "Bukan aku yang melakukannya." "Tanyakanlah kepada sang tinta mengapa dia keluar dari wadahnya, padahal dia cukup tenang berada di dalamnya, dan mengapa dia menghitami wajahku."&lt;br /&gt;"Kau benar," kata sang fakir. Lalu dia berpaling kepada sang tinta dan bertanya kepadanya.&lt;br /&gt;"Mengapa kau bertanya kepadaku?" jawabnya, "Aku sedang duduk tenang di dalam wadah tinta dan tidak berpikir untuk keluar, tetapi mata pena yang tajam itu menyorengku, lalu mendorongku keluar dan menaburkanku di atas permukaan sang kertas. Di sana kau dapat melihatku terbaring tak berdaya. Pergilah ke sang pena dan tanyakan kepadanya."&lt;br /&gt;Sang fakir berpaling kepada sang pena dan bertanya mengapa dia bersikap sewenang-wenang.&lt;br /&gt;"Mengapa kau menggangguku?" jawab sang pena. "Lihat, siapa aku ini? Tak lebih dari sebatang buluh yang tiada berarti. Aku waktu itu sedang tumbuh di tepian sungai bening keperak-perakan, di tengah-tengah pepohonan hijau nan rindang, ketika, kau tahu, sebuah tangan merentang ke arahku. Sang tangan memegang sebuah pisau. Sang pisau mencabut akar-akarku, menguliti seluruh batang tubuhku, memisah-misahkan seluruh persendianku, menumbangkanku, membelah kepalaku, lalu memenggalnya. Aku segera dikirim ke sang tinta, dan harus mengabdi sebagai pelayan hina-dina. Janganlah kau menambah parah luka-lukaku. Pergilah ke sang tangan dan bertanyalah kepadanya."&lt;br /&gt;Sang fakir memandang sang tangan, lalu bertanya: "Benarkah itu? Apakah kau demikian kejamnya?"&lt;br /&gt;"Jangan marah dulu, Tuan," jawab sang tangan. "Aku hanyalah segumpal daging, tulang, dan darah. Pernahkah Tuan melihat sekerat daging memiliki kekuatan? Dapatkah sebentuk tubuh bergerak dengan sendirinya? Aku hanyalah alat yang digunakan oleh sesuatu yang disebut vitalitas. Dia menunggangiku dan memaksaku berputar-putar. Tuan tahu, orang mati mempunyai tangan tetapi tidak dapat menggunakannya karena vitalitas telah meninggalkannya. Mengapa aku, sebuah alat, mesti dipersalahkan? Pergilah Tuan ke sang vitalitas. Tanyakanlah kepadanya mengapa dia menggunakanku."&lt;br /&gt;"Kau benar," kata sang fakir, kemudian bertanya kepada sang vitalitas.&lt;br /&gt;"Acap kali pengecam sendiri mendapat kecaman, sementara yang dikecam terbukti tak bersalah. Bagaimana kau tahu bahwa aku telah memaksa sang tangan? Aku sudah berada di sana sebelum dia bergerak, dan tidak pernah berpikir untuk menggerakkannya. Aku tidak sadar dan pemirsa pun tidak sadar akan diriku. Tiba-tiba suatu agen datang kepadaku dan menggerakkanku. Aku tak punya cukup kekuatan untuk melanggarnya ataupun kemauan untuk mematuhinya. Mengenai perkara yang membuatmu menegurku, aku melakukannya sesuai dengan keinginannya. Aku tak tahu siapa agen itu. Dia disebut sang kemauan dan aku hanya mengenal namanya. Seandainya hal itu diserahkan kepadaku, kupikir aku tidak akan melakukan apa-apa."&lt;br /&gt;"Baiklah," lanjut sang fakir, "aku akan mengajukan pertanyaan kepada sang kemauan, dan bertanya kepadanya mengapa dia telah mempekerjakan secara paksa sang vitalitas yang menurut keinginannya sendiri tidak akan melakukan sesuatu."&lt;br /&gt;"Jangan dulu terlalu terburu-buru," pekik sang kemauan. "Sedapat mungkin aku akan mengajukan alasan yang cukup memadai. Yang Mulia Pangeran, sang pikiran, mengutus seorang duta besarnya yang bernama pengetahuan, yang menyampaikan pesannya kepadaku melalui nalar, berbunyi: 'Bangkitlah, gerakkanlah vitalitas.' Aku terpaksa melakukannya, karena aku harus patuh kepada sang pengetahuan dan sang nalar, tetapi aku tak tahu apa alasannya. Selama tidak menerima perintah aku bahagia, tetapi begitu ada perintah aku tak berani melanggarnya. Apakah sang raja seorang penguasa yang adil ataukah zalim, aku harus patuh kepadanya. Aku telah bersumpah, selama sang raja ragu-ragu atau masih merenungkan suatu masalah, maka aku hanya diam saja, siap melayani; pegitu perintah sang raja disampaikan kepadaku, maka rasa patuh yang memang sudah menjadi pembawaanku akan segera memaksaku untuk menggerakkan sang vitalitas. Maka janganlah Tuan mengecamku. Sebaiknya pergilah Tuan menghadap sang pengetahuan dan mendapatkan keterangan di sana."&lt;br /&gt;"Anda benar," setuju sang fakir, lalu dia meneruskan perjalanan, menghadap kepada sang pikiran dan para duta besarnya, yaitu pengetahuan dan nalar, untuk meminta penjelasan.&lt;br /&gt;Sang nalar memohon maaf dengan mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebuah lampu, dan dia tidak mengetahui siapa yang menyalakannya. Sang pikiran mengaku tidak bersalah dengan mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebuah tabula rasa. Sedangkan sang pengetahuan bersikeras menyebut dirinya hanyalah sebuah prasasti, yang baru bisa digoreskan setelah lampu sang nalar menyala. Maka dia tidak dapat dianggap sebagai penulis prasasti tersebut, yang kemungkinan merupakan hasil goresan sebuah pena tertentu yang tidak terlihat.&lt;br /&gt;Sang fakir kemudian menjadi bingung, tetapi setelah berhasil menguasai diri lagi, dia berkata kepada sang pengetahuan: "Aku sedang melakukan perjalanan mencari penerangan.&lt;br /&gt;Kepada siapa pun aku menghadap dan menanyakan alasan, aku selalu disuruh menghadap yang lainnya. Meskipun demikian, aku merasa senang dalam pengejaranku ini, karena semuanya memberikan alasan yang masuk akal. Tetapi, Tuan Pengetahuan, maafkanlah aku kalau kukatakan bahwa jawaban Tuan tidak memuaskanku. Tuan mengatakan bahwa Tuan hanyalah sebuah prasasti yang digoreskan oleh sang pena. Aku telah berjumpa dengan sang pena, sang tinta, dan sang kertas. Mereka masing masing terbuat dari buluh, campuran warna hitam, dan kayu serta besi. Dan aku pun telah melihat lampu-lampu yang dinyalakan oleh sang api. Tetapi di sini aku tidak melihat satu pun dari mereka itu, walaupun Tuan berbicara tentang kertas, lampu, pena, dan prasasti. Tentunya Tuan tidak sedang bermain-main denganku, bukan?"&lt;br /&gt;"Tentu, tidak," timpal sang pengetahuan. "Aku berbicara dengan sebenar-benarnya. Tetapi aku dapat memahami kesulitanmu. Bekal yang kau bawa hanya sedikit, kuda yang kau tunggangi sudah letih, dan perjalanan yang kau tempuh cukup jauh dan berbahaya. Hentikanlah perjalananmu ini, karena aku khawatir kau tidak akan dapat berhasil. Tetapi, bagaimanapun, jika kau sudah "siap menanggung risiko, maka dengarkanlah.&lt;br /&gt;Perjalananmu mencakup tiga wilayah. Pertama, alam dunia. Benda-benda di dalamnya adalah pena, tinta, kertas, tangan dan sebagainya, seperti yang telah kau lihat tadi. Yang kedua adalah alam langit, yang akan mulai kau masuki bila kau telah meninggalkanku. Di sana aku akan menjumpai puncak-puncak awan yang padat, sungai-sungai yang luas dan dalam, dan gunung-gunung yang menjulang tinggi tak terdaki, yang aku tak tahu bagaimana kau akan mampu mendakinya. Di antara kedua alam ini terdapat alam ketiga sebagai wilayah perantara, yang disebut alam gejala. Kau telah melampaui tiga lapis di antaranya, yaitu vitalitas, kemauan, dan pengetahuan. Dengan tamsil dapat dikatakan: orang yang sedang berjalan, ia masih berada di alam dunia: jika ia sedang berlayar pada sebuah kapal maka ia mulai memasuki alam gejala: jika ia meninggalkan kapal tersebut lalu berenang dan berjalan di atas air, maka ia telah dianggap berada di alam langit. Jika kau belum tahu bagaimana caranya berenang, maka kembalilah. Sebab daerah perairan dari alam langit itu bermula dari saat kau muiai dapat melihat pena yang menulis pada lembaran hati. Jika kau bukan orang yang diseru: Wahai iman yang kecil, mengapa kau ragu-ragu?1) maka bersiap-siaplah. Sebab dengan iman kau tidak hanya akan berjalan di atas lautan tetapi kau akan terbang di angkasa."&lt;br /&gt;Sang fakir kelana kemudian terdiam sejenak, lalu memandang sang pengetahuan dan mulai berkata: "Aku sedang mengalami kesulitan. Bahaya-bahaya yang menghadang pada jalan yang telah Tuan gambarkan itu membuat hatiku kecut, dan aku tak tahu apakah aku cukup kuat menghadapinya dan berhasil pada akhirnya."&lt;br /&gt;"Ada ujian untuk mengetahui kekuatanmu," kata sang pengetahuan. "Bukalah matamu dan pusatkan pandanganmu padaku. Jika kau dapat melihat pena yang menulis pada sang hati, kukira kau akan mampu melangkah lebih jauh lagi. Sebab orang yang mampu menyeberangi alam gejala, lalu ia mengetuk pintu alam langit, maka ia akan dapat melihat pena yang menulis pada hati."&lt;br /&gt;Sang fakir mengikuti nasihat tersebut, tetapi ia tidak dapat melihat pena itu, karena pandangannya tentang pena adalah tidak lain dari pena yang terbuat dari buluh atau kayu. Lalu sang pengetahuan memperhatikan dirinya sambil berkata: "Di sanalah kesulitannya. Tidakkah kau tahu bahwa perabot rumah tangga sebuah istana. menunjukkan kedudukan pemiliknya? Tiada satu pun di alam semesta ini menyerupai Allah,2) oleh karenanya sifat-sifat-Nya pun transendental. Dia tidak berbentuk dan tidak pula menempati ruangan. Tangan-Nya bukanlah segumpal daging, tulang dan darah. Maka pena-Nya pun tidaklah terbuat dari buluh ataupun kayu. Tulisan-Nya bukan lah dari tinta yang keluar dari benda tajam dan runcing. Namun banyak orang dengan bodohnya tetap berpegang pada pandangan yang menyamakan Dia dengan manusia. Hanya sedikit yang menghargai konsepsi yang secara transendental murni tentang Dia, dan percaya bahwa Dia tidak hanya berada di atas segala batas kebendaan tetapi bahkan berada di atas segala batas perumpamaan. Tampaknya kau masih terombang-ambing di antara dua pandangan, karena di satu pihak kau beranggapan bahwa Allah itu tidak bersifat kebendaan, bahwa kata-kata-Nya tidak bersuara dan tidak berbentuk; di lain pihak kau tak dapat meningkat pada konsepsi transendental tentang tangan, pena dan kertas-Nya. Apakah kau kira makna dari Hadis, 'Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menyerupai Citra-Nya' itu terbatas pada wajah manusia yang tampak saja? Tentu tidak; sifat batin yang dapat dilihat dari pandangan batin sajalah sesungguhnya yang dapat disebut citra Allah.3) Namun demikian, dengarkanlah: Engkau kini berada pada gunung yang suci, tempat suara gaib dari hutan yang terbakar berkata: 'Aku adalah Aku;4) sesunqguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu.5)&lt;br /&gt;Sang fakir, yang sedang mendengarkan dengan terkagumkagum itu, tiba-tiba melihat seolah-olah ada seberkas sinar, kemudian tampaklah pena yang bekerja menuliskan pada hati, tiada berbentuk. "Beribu-ribu terima kasih kuucapkan kepadamu, wahai Pengetahuan, yang telah menyelamatkanku dari kejatuhan ke dalam jurang kemusyrikan. Terima kasih kuucap kan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku telah menunda-nunda waktu, maka kini kuucapkan selamat tinggal!" Kemudian sang fakir melanjutkan kembali perjalanannya. Berhenti sejenak ketika melihat kehadiran sang pena yang tak tampak itu. Dengan sopan ia bertanya seperti dahulu: "Kau sudah tahu jawabanku," jawab sang pena yang misterius itu. "Kau tentunya tidak dapat melupakan jawaban yang diberikan kepadamu oleh sang pena di alam bumi sana."&lt;br /&gt;"Ya, aku masih ingat," jawab sang fakir, "tetapi bagaimana mungkin jawabannya bisa sama, karena tidak ada kemiripan antara kamu dengan sang pena yang di sana itu."&lt;br /&gt;"Kalau demikian, tampaknya kau telah melupakan hadits: 'Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menyerupai citraNya'.&lt;br /&gt;"Tidak, Tuan," sela sang fakir, "Aku telah menghapalkannya." "Dan kau pun telah melupakan ayat suci Al-Quran: 'Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya:6)&lt;br /&gt;"Tentu, tidak," seru sang fakir, "Aku dapat mengulang-ulang seluruh isi Al-Quran di luar kepala."&lt;br /&gt;"Ya, aku tahu, dan karena kini kau sudah memasuki pelataran suci dari alam langit, maka aku pikir aku dapat dengan aman mengatakan bahwa sesungguhnya kau telah mempelajari makna ayat-ayat tersebut dari sudut pandang yang negatif. Namun sebenarnya ayat-ayat tersebut memiliki nilai positif juga, dan harus digunakan sebagai sesuatu yang membangun pada peringkat ini7) Lanjutkanlah terus perjalananmu dan kau akan memahami apa yang kumaksudkan."&lt;br /&gt;Sang fakir memandangi dirinya dan menemukan dirinya itu memantulkan sifat Tuhan Yang Maha Kuasa. Segera ia menyadari adanya kekuatan yang tersimpan di balik pernyataan sang pena yang misterius itu, tetapi dengan dorongan sifat ingin tahunya ia hampir saja mengajukan pertanyaan tentang Yang Maha Suci, ketika suatu suara bagaikan halilintar yang memekakkan telinga terdengar dari atas, berkumandang: "Ia tidak ditanya tentang perbuatannya, tetapi perbuatannya itulah yang akan ditanya." Dengan diliputi keterkejutan, sang fakir menundukkan kepalanya penuh khidmat tanpa sepatah kata pun.&lt;br /&gt;Tangan Allah Yang Maha Pengasih merentang ke arah sang fakir yang tiada berdaya itu; ke dalam telinganya dibisikkanlah nada-nada suara merdu merayu: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan menuju Kami. " (QS 29:64)&lt;br /&gt;Setelah membuka kedua matanya, sang fakir mengangkat kepalanya dan menghadapkan hatinya dengan penuh khusyuk dalam doa: "Mahasuci Engkau, wahai Allah Yang Maha Kuasa: segala puji bagi nama-Mu, wahai Tuhan seru sekalian alam! Mulai saat ini aku tak akan lagi takut pada segala makhluk, kuserahkan seluruh kepercayaanku kepada-Mu, ampunan-Mu adalah pelipur laraku, rahmat-Mu adalah tempatku berlindung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari buku : Rahasia-Rahasia Ajaran Tasawuf Al-Ghazali, Oleh Syed Nawab Ali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-6181371510325253757?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/6181371510325253757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=6181371510325253757' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/6181371510325253757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/6181371510325253757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2009/05/hikayat-sang-pena.html' title='Hikayat Sang Pena'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-4574059738412397024</id><published>2009-04-27T16:48:00.001+07:00</published><updated>2009-04-27T16:49:20.970+07:00</updated><title type='text'>Dua Keinginan</title><content type='html'>Dua Keinginan&lt;br /&gt;Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.&lt;br /&gt;Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman -- berhati-hati tidak menyentuh apapun -- sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.&lt;br /&gt;Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, "Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!"&lt;br /&gt;Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku."&lt;br /&gt;Dan si kaya berkuasa itu bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan."&lt;br /&gt;Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian."&lt;br /&gt;Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.&lt;br /&gt;Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku."&lt;br /&gt;"Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih."&lt;br /&gt;Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.&lt;br /&gt;Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang -- ke dunia -- dan dalam bisikan ia berkata, "Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dari "Kelopak-Kelopak Jiwa" - Khalil Gibran)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-4574059738412397024?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/4574059738412397024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=4574059738412397024' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/4574059738412397024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/4574059738412397024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2009/04/dua-keinginan.html' title='Dua Keinginan'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-24487509670887760</id><published>2008-09-18T10:43:00.002+07:00</published><updated>2008-09-18T10:53:04.208+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi'/><title type='text'>smilling</title><content type='html'>Teman-teman ini ada cerita menginspirasi dari kiriman teman , semoga bermanfaat &lt;br /&gt;Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling"..&lt;br /&gt;Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus... Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering...! Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, dan... tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil...! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya....&lt;br /&gt;Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam... tapi juga memancarkan kasih sayang...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu... Ia menyapa "Good day..!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin.. setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka...,dan kami bertiga tiba-2 saja sudah sampai didepan counter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan... Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir... Nona !" Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-2 saja saya diserang oleh rasa iba... membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-2 lainnya, yang hampir semuanya...sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya..., dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum... dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. .. saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap.. "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2... dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya...."&lt;br /&gt;Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata... "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian...." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka... dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata... "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku..., yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku...! " Kami saling&lt;br /&gt;berpegangan tangan beberapa saat...... dan saat itu kami benar-2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' .. untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lain yang sedang sangat membutuhkan.&lt;br /&gt;Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya... mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami... Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap.. "tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini..., jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami..." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami...! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap&lt;br /&gt;kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya dan sekaligus merupakan 'hidayah' bagi saya..., maupun bagi orang-2 yang ada disekitar saya saat itu. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari&lt;br /&gt;kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca.... para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi... Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya... membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya&lt;br /&gt;diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .. "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus... dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah&lt;br /&gt;saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu : "PENERIMAAN TANPA SYARAT".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-24487509670887760?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/24487509670887760/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=24487509670887760' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/24487509670887760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/24487509670887760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/09/smilling.html' title='smilling'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-3962954188627623187</id><published>2008-09-04T09:45:00.002+07:00</published><updated>2008-09-04T09:48:54.493+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi'/><title type='text'>Kebahagiaan Diperoleh Dari Memberi</title><content type='html'>ini ada sebuah cerita menginspirasi yang diperoleh dari seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini bercerita tentang seorang wanita cantik bergaun mahal yang mengeluh kepada psikiaternya bahwa dia merasa seluruh hidupnya hampa tak berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka si psikiater memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya," Saya akan menyuruh Mary di sini untuk menceritakan kepada anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Saya ingin anda mendengarnya. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya:"OK, suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan. Aku tidak punya siapa-siapa. aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapapun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku. Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang. Sejenak aku merasa kasihan melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca dingin di luar, jadi aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah. Aku memberikannya susu dan dia minum sampai habis. Lalu si anak kucing itu bermanja-manja di kakiku dan untuk pertama kalinya aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian aku berpikir jikalau membantu seekor anak kucing saja bisa membuat aku tersenyum, maka mungkin melakukan sesuatu bagi orang lain akan membuatku bahagia. Maka di kemudian hari aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang. Hal itu membuat aku bahagia tatkala melihat orang lain bahagia. Hari ini, aku tak tahu apa ada orang yang bisa tidur dan makan lebih baik dariku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan memberi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si wanita kaya mendengarkan hal itu, menangislah dia. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang namun dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-3962954188627623187?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/3962954188627623187/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=3962954188627623187' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3962954188627623187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3962954188627623187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/09/kebahagiaan-diperoleh-dari-memberi.html' title='Kebahagiaan Diperoleh Dari Memberi'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-4686806589282794111</id><published>2008-09-04T09:07:00.004+07:00</published><updated>2008-09-04T09:38:20.597+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritual'/><title type='text'>Menjadi Ikhlas</title><content type='html'>Banyak diantara kita terjebak dengan kata ikhlas, sehingga mereka menjadi pasrah, pasrah dan ikhlas memiliki perbedaan yang amat jauh tapi jika kita tidak hati-hati maka kita menjadi pasrah. pasrah berarti meneriman sesuatu tanpa hasil usaha, sedangkan ikhlas kita menerima apapun hasil yang kita dapatkan setelah kita melakukan usaha, suatu makna yang dalam . walaupun begitu mungkin pengertian ikhlas bisa jadi tidak saman antara manusia satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;  keikhlasan merupakan wilayah tertinggi didalam dunia tassawuf, sebagaimana yang tertulis didalam Al-Qur'an Q.S Shad[83] : 82-83 dimana artinya bahwa iblispun takut kepada orang-orang yang mukhlis (ikhlas), kitapun bertanya kenapa bukan orang-orang yang rajin shalat, rajin puasa , rajin sedekah dll, tapi kenapa orang-orang yang ikhlas. disinilah mengapa bahwa untuk orang-orang yang ikhlas hanya ALLAH SWT yang tahu.&lt;br /&gt;   Sebenarnya keikhlasan dimulai dari niat kita, sebagai contohnya sebelum kita shalat kita niat dulu, apa niatnya Lillahi Ta'ala (ikhlas) sebelum berpuasa niatnya Lillahi Ta'ala (ikhlas) jadi segala sesuatunya kita niatkan hanya kepada ALLAH bukan hanya untuk surga dan neraka ataupun pahala. niat adalah ruh amal dan ikhlas adalah inti amal.sedangkan ikhlas itu sendiri memiliki tingkatan-tingkatannya sendiri-sendiri, manusia berbeda tingkatan-tingkatannya antara yang satu dengan yang lainnya walaupun tidak menutup kemungkinan jika ada yang sama.&lt;br /&gt;jadi sudahkan kita menjadi manusia yang ikhlas ?? bagaiman melatih diri menjadi manusia yang ikhlas ??? latihan-latihan untuk menjadi ikhlas banyak jenisnya dan merupakan latihan yang tidak gampang banyak godaannya , banyak buku-buku yang membahas latihan-latihan riyadhah dan mujahadah agar kita bisa menjadi lebih ikhlas seperti buku ihya' ullumuddin karangan imam Ghazali, buku qut al-qulub karangan abu thalib al-Makki (dalam bahasa indonesia judulnya nutrisi hati), kitab al-hikam karangan imam Ibn Atha'illah dll.&lt;br /&gt;mohon maaf bila ada yang tidak berkenan.&lt;br /&gt;wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra&lt;br /&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-4686806589282794111?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/4686806589282794111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=4686806589282794111' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/4686806589282794111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/4686806589282794111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/09/menjadi-ikhlas.html' title='Menjadi Ikhlas'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-7994642364849275816</id><published>2008-08-17T09:50:00.003+07:00</published><updated>2008-08-17T10:08:37.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inspirasi'/><title type='text'>Perjalanan Seekor Kupu-kupu</title><content type='html'>Sebelum menjadi seekor kupu-kupu yang indah maka seekor ulat akan menjalani fase kepompong, disini proses dari sekeor ulat yang jelek dan kotor akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah akan melalui proses kepompong.&lt;br /&gt;   demikian juga seorang manusia, dia akan berubah dari seorang manusia yang penuh dosa akan berubah menjadi seorang yang indah seperti kupu-kupu juga akan mengalami proses kepompong juga, demikian juga seorang pengusaha sebelum menjadi pengusaha sukses maka dia akan mengalami proses kepompong, sebagai contoh adalah baginda Rasul, sebelum diangkat menjadi rasul beliau juga memasuki fase kepompong juga yaitu beliau berkhalwat didalam gua hira, ini adalah fase kepompong dari baginda Rasul kita, nah kalau didalam dunia usaha apakah fase kepompong itu !!! inilah yang dinamakan proses, pada saat kita berusaha menjalankan suatu usaha kita akan mengalami proses naik-turun , utung-bangkrut dsb inilah fase kepompong para pengusaha itu, banyak dari para pengusaha mengalami fase kepompong yang tidak ringan, contohnya adalah kolonel sanders, berapa banyak yang menolak resep ayam yang ditawarkan tapi dia tidak pernah menyerah, sampai akhirnya sekarang kita tau bahwa KFC merupakan salah satu waralaba terbesar didunia demikain juga dengan Thomas Alfa Edison, dia mengalami kegagalan sampai ribuan kali tapi akhirnya dia dapat menciptakan bola lampu dan disusul dengan penemuan2 lain.&lt;br /&gt;   Bagaimanakah dengan kita apakah kita sudah memasuki fase kepompong, dan siapkah kita memasuki fase kepompong kita, hal-hal apa saja yang harus kita siapkan !!!.&lt;br /&gt;selamat berusaha, mohon maaf bila tidak berkenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-7994642364849275816?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/7994642364849275816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=7994642364849275816' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/7994642364849275816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/7994642364849275816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/08/perjalanan-seekor-kupu-kupu.html' title='Perjalanan Seekor Kupu-kupu'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-1027533037447477444</id><published>2008-06-20T09:19:00.000+07:00</published><updated>2008-06-20T09:20:16.100+07:00</updated><title type='text'>Penghulu Para Sufi</title><content type='html'>KH. Jalaluddin Rakhmat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di antara sekian banyak sahabat Nabi, hanya Ali bin Abi Thalib-lah yang diberikan sebutan karamallahu wajhah; sebuah sebutan yang juga berarti doa “Semoga Allah memuliakan wajahnya” atau “Allah telah memuliakan wajahnya.” Semua ulama sepakat bahwa doa itu hanya dikhususkan untuk Imam Ali saja seperti halnya sebutan shalallahu ‘alaihi wa alihi wassalam untuk Nabi Muhammad. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan hal ini. Salah satu riwayat di antaranya menjelaskan alasan tentang doa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, di antara semua sahabat Nabi SAW, hanya Ali bin Abi Thalib yang tidak pernah menyembah berhala. Dia masuk Islam dalam usia yang masih kecil sehingga tak sempat beribadah kepada berhala. Artinya, wajahnya tak pernah disujudkan kepada berhala. Ali kecil langsung sujud kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua, Imam Ali adalah orang yang dikenal tak pernah melihat aurat, baik aurat dirinya sendiri maupun aurat orang lain. Dalam sebuah pertemuan di Shiffin, pasukan Imam Ali bertemu dengan pasukan Muawiyah. Sebelum perang berkecamuk, biasanya diadakan mubarazah atau duel antara dua orang yang mewakili pasukan yang akan bertempur. Imam Ali menantang Muawiyah ber-mubarazah namun Muawiyah tak berani dan Amr bin Ash menggantikannya. Dalam duel itu, Amr terdesak dan mengalami kekalahan. Ketika Imam Ali hendak memukulkan pedangnya ke kepala Amr, Amr lalu membuka auratnya sehingga Imam Ali segera berbalik memalingkan wajahnya dan meninggalkan Amr. Karena Imam Ali tak mau melihat aurat, selamatlah Amr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa hidupnya, Imam Ali dikenal sebagai seorang pria yang gagah dan tampan. Banyak hadis yang meriwayatkan Imam Ali memiliki kepala yang agak botak sehingga orang yang tak senang pada Imam Ali memberikan julukan ashla yang berarti “Si Botak”. Umar bin Khattab pernah berkata, “Sekiranya tak ada si ashla, celakalah Umar!” Ketika banyak sahabat lain mengecam Imam Ali dengan memberikan julukan ashla, Rasulullah SAW berkata, “Janganlah kalian mengecam Ali karena ia sudah tenggelam dalam kecintaan kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali sering menjadi fana atau larut dalam kecintaannya kepada Allah. Pernah suatu hari, Abu Darda menemukan Ali terbujur kaku di atas tanah seperti sebongkah kayu di sebuah kebun kurma milik seorang penduduk Mekkah. Dengan tergopoh-gopoh, Abu Darda mendatangi Fathimah untuk berbelasungkawa, karena ia mengira Ali telah meninggal dunia. Fathimah hanya berkata, “Sepupuku, Ali, tidak mati melainkan ia pingsan karena fana dalam ketakutannya kepada Allah. Ketahuilah, kejadian itu sering menimpanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Imam Ali, shalat tidak merupakan peristiwa biasa namun adalah pertemuan agung dengan Allah swt. Imam Al-Ghazali mengisahkan hal ini dalam kitab Ihya Ulumuddin:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, menjelang waktu shalat, seorang sahabat menemukan Imam Ali dalam keadaan tubuh yang berguncang dan wajah yang pucat pasi. Ia bertanya, “Apa yang telah terjadi, wahai Amirul Mukminin?” Imam Ali menjawab, “Telah datang waktu shalat. Inilah amanat yang pernah diberikan Allah kepada langit, bumi, dan gunung tetapi mereka menolak untuk memikulnya dan berguncang dahsyat karenanya. Sekarang, aku harus memikulnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sikapnya itu, Imam Ali ingin mengajarkan sahabatnya bahwa shalat bukanlah kejadian biasa. Shalat adalah amanat yang di dalamnya mengandung perjanjian mulia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Alangkah anehnya bila kita masih belum merasakan kekhusyukan itu di dalam shalat kita. Tuhan berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang mukmin itu; yaitu mereka yang khusyuk di dalam shalatnya.” (QS. Al-Mukminun; 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali juga dikenal karena shalatnya yang khusyuk. Banyak sahabat yang memuji shalat Ali sebagai shalat yang mirip dengan shalat Rasulullah SAW. Puluhan tahun sejak kematian Rasulullah, seorang sahabat bernama ‘Umran bin Husain, shalat di belakang Imam Ali di Basrah. ‘Umran berkata, “Lelaki itu mengingatkan aku pada shalat yang dilakukan Rasulullah SAW.” ‘Umran terkesan akan shalat Ali bukan karena gerakan-gerakan lahiriahnya melainkan karena kekhusyukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Abi Al-Hadid, seorang tokoh Mu’tazilah, bercerita tentang ibadah Imam Ali. Ia menyebutkan Ali sebagai orang yang paling taat beribadah dan yang paling banyak shalat dan puasanya sehingga dari Ali-lah orang banyak belajar tentang shalat malam. Selain itu, Ali senantiasa melazimkan wirid dan menunaikan ibadah-ibadah nafilah. “Dalam Perang Shiffin,” Al-Hadid bercerita, “di tengah-tengah perang yang berkecamuk, Ali masih mendirikan shalat. Sesudah shalat, ia membaca wirid. Dalam kesibukan perangnya, ia tak meninggalkan wiridnya padahal anak panah melintas di antara kedua belah tangan dan di antara kedua daun telinganya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hadis meriwayatkan kehidupan Imam Ali yang teramat sederhana. Ali bekerja keras membanting tulang untuk nafkah keluarganya. Istrinya, Fathimah, setiap hari menggiling gandum sampai melepuh tangannya. Suatu saat, setelah memenangkan sebuah peperangan, kaum muslimin memiliki banyak tawanan perang. Fathimah berkata pada Ali, “Bagaimana jika kita meminta salah seorang tawanan kepada Rasulullah untuk menjadi pembantu kita?” Ali enggan menyampaikan permohonan ini pada Rasulullah karena merasa sangat malu. Ia meminta Fathimah-lah yang memintakan hal itu. Pergilah Fathimah menemui Rasulullah SAW. Begitu ia berada di hadapan Nabi yang mulia, Fathimah tak kuasa menyampaikan maksudnya. Ia pulang lagi ke rumahnya. Imam Ali lalu pergi untuk menyampaikan hal itu dan ia pun tak kuasa mengutarakan keinginan itu dan kembali lagi. Akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi bersama-sama ke tempat Rasulullah. Disampaikanlah hajat itu tapi Rasulullah tak menjawab permintaan mereka. Keduanya pulang dengan perasaan malu dan takut akan kemurkaan Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya Nabi datang ke rumah Ali. Nabi menyaksikan Ali hanya berselimutkan sarung yang amat pendek padahal malam teramat dingin. Jika selimut itu ditarik ke atas, terbukalah bagian bawah dan jika selimut itu ditarik ke bawah, terbukalah bagian atas. Rasulullah terharu melihat kesederhanaan Ali. Ia berkata kepada keluarga mulia itu, “Maukah kalian aku berikan pembantu yang lebih baik dari seluruh isi langit dan bumi?” Rasulullah SAW kemudian memberikan wirid untuk dibacakan oleh keluarganya itu seusai shalat. Wirid itu berisi 33 kali tasbih, tahmid, dan takbir. Begitu setianya Imam Ali dengan wiridnya itu, ia tak pernah meninggalkannya bahkan saat perang sekali pun. Ia melazimkannya dalam setiap keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa kekuasaan Muawiyah, karena kebencian Muawiyah yang teramat sangat kepada Imam Ali, para khatib Jumat diperintahkan untuk mengakhiri setiap khutbahnya dengan kecaman kepada Ali. Cacian dan makian ini berlangsung selama hampir puluhan tahun. Ketika Umar bin Abdul Aziz berkuasa, perintah ini dihapuskan. Namun meskipun Muawiyah begitu membenci Ali, ia harus mengakui keutamaan sifat-sifat Ali. Suatu saat, Darar bin Dhamrah Al-Khazani diminta Muawiyah untuk bercerita tentang Imam Ali kw. Ia tak mau memenuhi permintaan itu. Ia takut, bila ia menceritakan keadaan Ali apa adanya, ia akan dianggap sebagai orang yang mengutamakan Ali, dan ia akan dihukum. Oleh sebab itu Darar hanya berkata, “Ampunilah aku, wahai Amirul Mukminin! Jangan perintahkan aku untuk mengungkapkan hal itu. Perintahkan aku untuk melakukan hal lain saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” ujar Muawiyah, “aku takkan mengampunimu.” Akhirnya Darar bercerita tentang Ali dalam bahasa Arab yang teramat indah. Terjemahannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ali adalah seorang yang cerdik cendekia dan gagah perkasa. Ia berbicara dengan jernih dan menghukum dengan adil. Ilmu memancar dari kedalaman dirinya dan hikmah keluar dari sela-sela ucapannya. Ia mengasingkan diri dari dunia dengan segala keindahannya untuk kemudian bertemankan malam dengan seluruh kegelapannya, di sisi Allah. Air matanya senantiasa mengalir dan hatinya selalu tenggelam dalam pikiran. Ia sering membolak-balikkan tangannya dan berdialog dengan dirinya. Ia senang dengan pakaian yang sederhana dan makanan yang keras.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah, ia dekat kepada kami dan kami senang berdekatan dengannya. Ia menjawab bila kami bertanya. Namun betapa pun ia dekat dengan kami, kami tak sanggup menegurnya karena kewibawaannya. Jika tersenyum, giginya tampak bagai untaian mutiara. Ia memuliakan para ahli agama dan mencintai orang miskin. Orang kuat tak berdaya di hadapannya karena keadilannya sementara orang yang lemah tak putus asa di sisinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bersaksi demi Allah, aku sering melihatnya berada di mihrab pada sebagian tempat ibadahnya. Malam telah menurunkan tirainya dan gemintang tak tenggelam, saat itu ia memegang janggutnya dan merintih dengan rintihan orang yang sakit. Ia menangis dengan tangisan orang yang menderita. Seakan-akan kudengar jeritannya Ya Rabbana, ya Rabbana.....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia menggigil di hadapan kekasihnya. Kepada dunia, ia berkata: Kepadaku kau datang mencumbu. Kepadaku kau merayu. Enyahlah dan pergi! Tipulah orang selain aku. Aku telah menjatuhkan talak tiga kepadamu. Usiamu pendek, posisimu rendah. Betapa sedikitnya bekal dan betapa jauhnya perjalanan, dan betapa sepinya perantauan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muawiyah mendengar Darar yang bercerita dengan penuh perasaan. Meskipun ia amat membenci Ali, tapi ia tak kuasa menahan tangisan begitu mendengar penuturan Darar. Pada kesempatan lain, Darar pernah ditanya, “Bagaimana kerinduanmu kepada Ali?” Darar menjawab, “Aku rindu kepadanya seperti kerinduan seorang perempuan yang kekasihnya disembelih di pangkuannya. Air matanya takkan pernah kering, dukanya panjang dan takkan pernah usai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali selalu mengisi malamnya dengan tangisan dan orang-orang yang mengenalnya akan mengisi kisah Ali dengan tangisan pula. Dalam tasawuf, menangis termasuk salah satu hal yang harus dilatih. Imam Ali berkata, “Salah satu ciri orang yang celaka adalah ia yang memiliki hati yang keras. Dan ciri hati yang keras adalah hati yang sukar menangis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW bersabda, “Jika engkau membaca Al-Quran, menangislah. Jika tidak bisa, berusahalah agar engkau menangis.” Pada salah satu doanya yang teramat indah, Imam Ali memohon:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhanku, berilah daku kesempurnaan ikatan kepada-Mu. Sinarilah bashirah hati kami dengan cahaya karena melihat-Mu sehingga kalbu kami menorehkan tirai cahaya dan sampailah ia pada sumber kebesaran; arwah kami terikat pada keagungan kesucian-Mu. Air mata tidak mengering kecuali karena hati yang keras dan hati takkan keras kecuali karena banyaknya dosa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keharuman Pribadi Imam Ali Bin Abi Thalib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka usaha meluruskan pengertian kaum muslimin mengenai ajaran agama Islam yang berkaitan dengan kewajiban berusaha mencari nafkah penghidupan, Imam 'Ali selalu memberi pengertian kepada kaum muslimin mengenai beberapa pokok ajaran Islam, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Nilai seseorang tergantung pada kadar kemauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Bukankah kemiskinan itu termasuk cobaan hidup? Ketahuilah, bahwa kemiskinan yang terberat itu adalah penyakit jasmani. Dan penyakit jasmani yang terparah adalah penyakit hati. Kesehatan badan lebih berharga daripada kecukupan harta, dan hati yang bertaqwa lebih berharga daripada badan yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Barangsiapa yang enggan bekerja ia akan menghadapi cobaan hidup, dan Allah tidak membutuhkan orang yang tidak mengindahkan nikmat yang dikaruniakan dalam harta dan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Orang yang bahagia adalah yang dapat menarik pelajaran dari orang lain, orang yang sengsara ialah orang yang tertipu oleh hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Hai para hamba Allah, janganlah sekali-kali kalian terkecoh oleh kebodohan kalian, dan jangan pula kalian menuruti hawa nafsu kalian. Orang yang tunduk kepada dua hal itu ia berada di tepi jurang terjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Ilmu pengetahuan wajib diikuti dengan amal perbuatan. Barangsiapa berilmu ia harus beramal. Dengan amal ilmu akan meningkat tinggi dan tanpa amal, ilmu akan merosot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7). Amal perbuatan adalah buah ilmu pengetahuan. Orang berilmu yang berbuat tidak sesuai dengan ilmunya, sama dengan orang bodoh yang kebingungan dan tetap bodoh. Bahkan orang seperti itu kesalahannya lebih besar, lebih pantas disesali dan di hadirat Allah ia akan menjadi orang yang paling menyesal. Orang yang bekerja tanpa ilmu sama dengan orang yang bepergian tanpa kenal jalan, sehingga orang lain yang melihatnya akan bertanya-tanya: "berpergiankah atau pulang?!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8). Barangsiapa dikaruniai kekayaan oelh Allah hendaklah ia memperhatikan kaum kerabatnya, menghormati dan menjamu tamu sebaik-baiknya, membebaskan tawanan perang dan melepaskan orang dari penderitaan, membantu kaum fakir miskin dan orang yang tenggelam di dalam hutang demi kebajikan, dan hendaknya ia bersabar tidak menuntut hak karena ingin mendapatkan pahala semata-mata. Sifat-sifat demikian itu merupakan keberuntungan yang akan menghantarkan orang ke arah kemuliaan di dunia dan insya Allah merupakan pembuka jalan baginya untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9). Bekerjalah dengan sekuat tenagamu, janganlah engkau menjadi penumpang hasil kerja orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10). Janganlah engkau malu kalau hanya dapat memberi sedikit, karena dapat memberi sedikit lebih baik daripada tidak dapat memberi. Jadilah engkau seorang yang penyantun, tetapi jangan menjadi seorang yang pemboros. Jadilah engkau seorang yang hemat, tapi jangan menjadi seorang yang kikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11). Janganlah engkau menjadi orang yang tidak mempan peringatan, karena orang yang berakal cukup diperingatkan dengan tutur-kata yang baik, sedangkan hewan tak dapat diperingatkan kecuali dengan pukulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12). Hati manusia dapat merasa jemu dan lesu sebagaimana badan juga merasa jemu dan lesu. Karena itu carilah ilmu dan hikmah sebagai obatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam 'Ali berpendapat, orang yang hidup dicengkeram kemelaratan tentu kehilangan ketenangan dan ketentramannya. Sukar baginya untuk menghayati kejujuran, perilaku yang baik dan menghias dirinya dengan sifat-sifat utama. Sukar pula baginya untuk membuang rasa iri hati dan dengki dari lubuk hati. Maka itu ia mudah terperosok ke dalam penyelewengan yang tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa Imam 'Ali hidup zuhud dan menganjurkan kezuhudan, demikian juga dengan beberapa sahabat Nabi semisal Abu Dzar Al-Ghifari. Akan tetapi mereka tak pernah menganjurkan untuk lebih suka hidup melarat daripada berkecukupan. Imam 'Ali tidak jemu-jemunya mengingatkan kepada kaum muslimin, "Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhirat seakan-akan engkau mati esok hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam 'Ali upaya memperoleh rizki dengan jalan yang benar dan lurus tidak akan mendatangkan hasil lebih besar daripada yang diperlukan untuk mengatasi kebutuhan. Dengan tegas dan jelas Imam 'Ali berkata: "Jika kalian menempuh jalan kebenaran, tentu akan terbuka jalan yang menyenangkan kalian dan tidak akan ada orang lain yang menggantungkan penghidupannya kepada orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengamatan yang tajam dan cermat Imam 'Ali as yakin bahwa kemelaratan dapat menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran. Karena itulah ia memerangi segenap kekuatan yang ada, serta dengan tegas dan tandas mencemoohkan orang-orang yang menganjurkan atau membagus-baguskan kemelaratan dengan dalih kezuhudan. Memang kalau hidup zuhud akan menambah iman dan taqwa kepada Allah Ta'ala, akan tetapi kalau kemelaratan akan membawa ke dalam kekufuran. Dimana nanti kita akan 'menyembah' selain-Nya. Itu bisa harta dan juga kekuasaan. Maka itu seumpamanya kemelaratan itu berupa manusia, seharusnya kita membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya secuil dari sekian banyak hikmah yang bisa kita temukan dalam diri Imam 'Ali, karena Imam 'Ali as adalah mahasiswa utama yang menimba ilmu dari mahaguru umat sedunia, Muhammad SAW. Yang mana, Rasulullah SAW bersabda: "Hai 'Ali, Allah telah menghias dirimu dengan hiasan yang paling disukai-Nya, Allah mengaruniaimu perasaan mencintai kaum lemah hingga Allah membuatmu puas (ridho) mempunyai pengikut mereka dan mereka pun puas engkau menjadi pemimpin mereka."[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-1027533037447477444?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=96' title='Penghulu Para Sufi'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/1027533037447477444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=1027533037447477444' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1027533037447477444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/1027533037447477444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/06/penghulu-para-sufi.html' title='Penghulu Para Sufi'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-5655918715186654743</id><published>2008-06-20T09:14:00.001+07:00</published><updated>2008-06-20T09:16:35.742+07:00</updated><title type='text'>MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG</title><content type='html'>KH.  Jalaluddin Rakhmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang di antara tokoh besar dalam dunia kesucian adalah orang Mesir yang bernama Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir, maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun Al-Mishri, Dzunnun Si Orang Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan Allah. Ia malah lebih banyak dicela dan dicemooh orang karena dianggap kafir, ahli bid’ah, dan orang murtad. Ia tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarah-an atau serangan balik. Ia bahkan menunjuk-kan dirinya seakan-akan ia mengakui seluruh celaan itu. Selama ia hidup, orang-orang tidak mengetahui bahwa Dzunnun adalah salah seorang di antara waliyullah, kekasih Allah. Orang mengetahui kedekatannya dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Hujwiri, pada malam kematian Dzunnun, tujuh puluh orang bermimpi melihat Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, “Aku datang menemui Dzunnun, sang wali Allah.” Sesudah kematian-nya, konon di atas keningnya tertulis: Inilah kekasih Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan, dan dibunuh oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Al-Hujwiri, pada saat penguburan Dzunnun, burung-burung di angkasa berkumpul di atas kerandanya sambil mengembangkan sayap mereka seakan-akan ingin melindungi jenazahnya. Pada saat itulah orang-orang Mesir menyadari kekeliruan mereka dalam memperlakukan Dzunnun selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kisah tentang Dzunnun dan hampir semua kisah hidupnya itu menjadi pelajaran yang amat berharga. Kisah-kisah itu menjadi petunjuk bagi kita dalam mendekati Allah swt. Di antara kisah-kisah yang dituturkan tentang Dzunnun adalah satu kisah ketika ia berlayar bersama para santrinya dengan sebuah perahu di atas sungai Nil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada suatu hari, berlayarlah mereka di sungai Nil. Yang sedang berekreasi di sungai itu bukan hanya orang-orang saleh seperti Dzunnun dan para santrinya, tetapi juga orang-orang yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok perahu yang mempunyai “ideologi” yang berbeda itu. Pada perahu yang satu, terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para santrinya. Mereka melantunkan zikir kepada Allah swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan berperilaku yang menjengkelkan santri-santri Dzunnun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena para santri percaya bahwa doa-doa Dzunnun pasti diijabah, mereka meminta Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya perahu anak-anak muda itu ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil. Dzunnun lalu mengangkat kedua belah tangannya dan berdoa: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberikan orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri-santrinya tercengang. Semula mereka berharap Dzunnun akan mendoakan anak-anak muda yang ugal-ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan karena anak-anak muda itu memandang kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja. Tapi aneh bin ajaib, Dzunnun hanya berdoa seperti di atas. Para santri terkejut mendengar doa Dzunnun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika perahu anak-anak muda itu mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di perahu itu. mereka menyesal dan meminta maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka kepada kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran kepada para santrinya, “Kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti adalah bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tertarik dengan cerita Dzunnun ini. Kita terbiasa untuk menaruh dendam kepada orang-orang di sekitar kita. Seringkali setelah kita menjalani kehidupan yang baik, kita jengkel kepada orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan kita dengan jelek, kita berharap bahwa kita bisa membalas kejelekan itu dengan kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering menutup-nutupinya dengan berkata, “Supaya ini jadi pelajaran bagi mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul Tuhan yang mengajarkan kepada kita untuk membalas kejelekan yang dilakukan orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah ketika Anda berdoa supaya saingan Anda hancur, agar musuh Anda binasa, Anda akan memperoleh satu manfaat saja: Kepuasan hati karena hancurnya saingan Anda. Tapi ketika Anda berdoa: Ya Allah, ubahlah kebencian musuh-musuhku menjadi kasih sayang, Anda akan mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-Mishri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, Nabi Isa as beserta murid-muridnya lewat di depan rombongan pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka bukan saja melakukan tindakan-tindakan maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang, mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa. Nabi Isa berhenti dan memandang mereka untuk kemudian mendoakan kebaikan bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-muridnya bertanya, “Mereka melempari batu ke arahmu tapi mengapa engkau malah membalas dengan doa yang baik?” Nabi Isa menjawab, “Itulah bedanya kita dengan mereka. Mereka kirimkan kepada kita keburukan dan kita kirimkan kepada mereka kebaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw dilempari orang di Thaif ketika beliau mengajak mereka kepada Islam sampai kakinya berlumuran darah. Ketika malaikat datang kepadanya menawarkan untuk menimpakan gunung di atas orang-orang yang menyerangnya, Nabi hanya berkata: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzunnun Al-Mishri mengajari kita tradisi para nabi dan orang-orang saleh; membalas kejelekan dengan kebaikan. Jadilah kita seperti pohon Mangga di tepi jalan, yang dilempari orang dengan batu tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. Ahsin kamâ ahsanallâhu ilaik, berbuatlah baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara perbuatan baik yang sangat tinggi nilainya adalah membalas keburukan orang kepada kita dengan kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang mustahil, melainkan ini adalah ajaran kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-5655918715186654743?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.jalal-center.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=404' title='MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/5655918715186654743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=5655918715186654743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/5655918715186654743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/5655918715186654743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/06/membalas-kebencian-dengan-kasih-sayang.html' title='MEMBALAS KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-3629476522498564500</id><published>2008-04-24T14:26:00.002+07:00</published><updated>2008-04-24T14:31:08.444+07:00</updated><title type='text'>Ketika Derita Mengabadikan Cinta</title><content type='html'>Temen-temen ini ada cerita yang meninspirasikan, semoga bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika Derita Mengabadikan Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua&lt;br /&gt;mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan. .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita... ,Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun yang lalu ...&lt;br /&gt;Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah. Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus. Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 12 dolar!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.&lt;br /&gt;"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!" "Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan. Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan. Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia &amp; lepas dari belenggu derita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menatap kaki langit&lt;br /&gt;Kukatakan kepadanya&lt;br /&gt;Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring&lt;br /&gt;Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba&lt;br /&gt;Bukan karna ketiadaan kata-kata&lt;br /&gt;Tapi karena kupu-kupu kelelahan&lt;br /&gt;Akan tidur di atas bibir kita&lt;br /&gt;Besok, oh cintaku... besok&lt;br /&gt;Kita akan bangun pagi sekali&lt;br /&gt;Dengan para pelaut dan perahu layar mereka&lt;br /&gt;Dan akan terbang bersama angin&lt;br /&gt;Seperti burung-burung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternyata menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery&lt;br /&gt;TNM-20&lt;br /&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-3629476522498564500?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/3629476522498564500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=3629476522498564500' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3629476522498564500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3629476522498564500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/04/ketika-derita-mengabadikan-cinta.html' title='Ketika Derita Mengabadikan Cinta'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-2338013332866059388</id><published>2008-04-18T13:38:00.000+07:00</published><updated>2008-04-18T13:42:06.721+07:00</updated><title type='text'>Nasrudin dan Tiga Orang Bijak</title><content type='html'>Nasrudin dan Tiga Orang Bijak &lt;br /&gt;Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa tersebut. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara. &lt;br /&gt;Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, ''Di mana sebenarnya pusat bumi ini?''&lt;br /&gt;Nasrudin menjawab, ''Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara.''&lt;br /&gt;''Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?'' tanya orang bijak pertama tadi.&lt;br /&gt;''Kalau tidak percaya,'' jawab Nasrudin, ''Ukur saja sendiri.''&lt;br /&gt;Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab. &lt;br /&gt;Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. ''Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?''&lt;br /&gt;Nasrudin menjawab, ''Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini.''&lt;br /&gt;''Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?''&lt;br /&gt;Nasrudin menjawab, ''Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya.''&lt;br /&gt;''Itu sih bicara goblok-goblokan,'' tanya orang bijak kedua, ''Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai.''&lt;br /&gt;Nasrudin pun menjawab, ''Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?''&lt;br /&gt;Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.&lt;br /&gt;Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan nasrudin dan dengan ketus bertanya, ''Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu.'' ''Saya tahu jumlahnya,'' jawab Nasrudin, ''Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara.''&lt;br /&gt;''Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?'' tanyanya lagi. ''Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru.''&lt;br /&gt;Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang terbijak di antara keempat orang tersebut. &lt;br /&gt;(dari buku humor sufi II terbitan Pustaka Firdaus) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-2338013332866059388?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/2338013332866059388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=2338013332866059388' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/2338013332866059388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/2338013332866059388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/04/nasrudin-dan-tiga-orang-bijak.html' title='Nasrudin dan Tiga Orang Bijak'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-2681993835102902104</id><published>2008-04-11T14:51:00.001+07:00</published><updated>2008-04-11T14:53:45.145+07:00</updated><title type='text'>Takut Miskin di Akhirat</title><content type='html'>Takut Miskin di Akhirat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.&lt;br /&gt;''Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,'' keluh si pemuda.&lt;br /&gt;''Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!'' Jawab sang kiai.&lt;br /&gt;''Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?''&lt;br /&gt;''Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.''&lt;br /&gt;''Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah...'' jawab pemuda itu dengan kesal.&lt;br /&gt;''Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,'' timpal kiai dengan ringan.&lt;br /&gt;Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi. Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda.&lt;br /&gt;''Anda siapa?'' tanya pemuda.&lt;br /&gt;''Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.''&lt;br /&gt;''Ohh... lalu ini istana siapa?''&lt;br /&gt;''Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.''&lt;br /&gt;''Ohh... dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?''&lt;br /&gt;''Betul!''&lt;br /&gt;''Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?''&lt;br /&gt;''Betul sekali.''&lt;br /&gt;Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang. Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara.&lt;br /&gt;'&lt;br /&gt;'Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,'' kata pemuda penuh keriangan.&lt;br /&gt;''Alhamdulillah. Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.''&lt;br /&gt;''Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?''&lt;br /&gt;''Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.''&lt;br /&gt;''Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,'' ujar pemuda itu sadar diri. Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika. Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak. &lt;br /&gt;[dari parodi sufi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rery&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-2681993835102902104?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/2681993835102902104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=2681993835102902104' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/2681993835102902104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/2681993835102902104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/04/takut-miskin-di-akhirat.html' title='Takut Miskin di Akhirat'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-467228779146950895</id><published>2008-04-07T09:15:00.001+07:00</published><updated>2008-04-07T09:19:05.169+07:00</updated><title type='text'>Dua Keinginan</title><content type='html'>Dua Keinginan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman -- berhati-hati tidak menyentuh apapun -- sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, "Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!"&lt;br /&gt;Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan si kaya berkuasa itu bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian."&lt;br /&gt;Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih."&lt;br /&gt;Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.&lt;br /&gt;Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang -- ke dunia -- dan dalam bisikan ia berkata, "Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dari "Kelopak-Kelopak Jiwa" - Gibran Khalil Gibran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-467228779146950895?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/467228779146950895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=467228779146950895' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/467228779146950895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/467228779146950895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/04/dua-keinginan.html' title='Dua Keinginan'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-8049427298480102921</id><published>2008-03-12T14:24:00.001+07:00</published><updated>2008-03-12T14:28:21.513+07:00</updated><title type='text'>Bersyukur</title><content type='html'>Ini ada kisah menarik untuk dibaca diambil dari postingan teman, selamat menikmati :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib,yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.Uniknya, dikiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lollipop yang bias diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis&lt;br /&gt;maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob,  Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya&lt;br /&gt;merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan&lt;br /&gt;dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan&lt;br /&gt;semua permen itu ke dalam tas karungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk&lt;br /&gt;mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika kita tanyakan pertanyaan tersebut kepada para rekan kita, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti&lt;br /&gt;pada waktu saya sudah menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada&lt;br /&gt;saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya...&lt;br /&gt;nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat 'sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang jika kita renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa 'nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat&lt;br /&gt;makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan&lt;br /&gt;beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran; memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan&lt;br /&gt;memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan&lt;br /&gt;menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bias disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati&lt;br /&gt;perjalanannya di lembah permen lolipop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-8049427298480102921?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/8049427298480102921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=8049427298480102921' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/8049427298480102921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/8049427298480102921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2008/03/bersyukur.html' title='Bersyukur'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-3550791684062236600</id><published>2007-12-05T16:18:00.000+07:00</published><updated>2007-12-05T16:39:50.629+07:00</updated><title type='text'>Menikmati Proses</title><content type='html'>Seorang sahabat dengan mudahnya mendapatkan project senilai 11 digit, sahabat yang lain berkomentar "kok enak ya gampang dapat project gede, gimana caranya ya ???". ternyata sahabat yang telah terbiasa mendapatkan project besar tesebut juga penuh dengan proses, dia bercerita bahwa pada mulanya dia pernah rugi/belajar(temen2 TDA biasa menyebutnya belajar :), senilai 11 digit juga, sehingga dia harus mengirit sana-sini demi menutupi cicilan dan bunganya, dia berkata "kalau temen2 liat saya sekarang memang enak tapi dulu saya juga jatuh bangun". dia pernah berpesan bahwa didalam usaha itu udah biasa jatuh-bangun tapi usahakan agar kita tidak menyerah disitu saja, yang penting proses kita menuju sukses itu, untuk urusan hasil adalah terserah kepada Tuhan, disini diperlukan suatu sikap sabar dan syukur yang tidak sedikit, bagaimana caranya kita bisa bersyukur dalam berbagai keadaan. seekor ulat tidak akan menjadi seekor kupu-kupu yang cantik jika dia gagal dalam proses kepompong, begitu juga dengan kita manusia, Tuhan maha adil dengan memberikan ujian kepada kita agar kita menjadi manusia yang tangguh, sepert firman ALLAH bahwa didalam kesulitan ada kemudahan jika kita percaya kepada ALLAH maka kita akan menjadi manusia yang bersyukur, bukankan udara yang kita hirup, jantung yang berdenyut, kaki yang sempurna untuk berjalan, merupakan karunia ALLAH yang tidak bisa kita beli dengan uang, coba bayangkan jika kita diharuskan membayar semua nikmat ALLAH, sehingga ALLAH katakan nikmat mana yang engkau kufuri. laksan sebuah dokter yang memberikan obat untuk kesembuhan kita, padahal obat yang kita minum demikian pahitnya tapi kita minum juga demi kesembuhan kita juga demikian juga dengan takdir ALLAH baik buruk adalah prasangka manusia saja, semoga kita semua menjadi manusia yang selalu bersyukur ... Amin ..jika proses yang kita lakukan belum memuaskan maka bisa jadi proses tersebut perlu pembenahan atau perubahan, sedangkan hasil adalah wilayah ALLAH kita tidak dapat mengintervensi. &lt;br /&gt;semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rery indra&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-3550791684062236600?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/3550791684062236600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=3550791684062236600' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3550791684062236600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3550791684062236600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/12/menikmati-proses.html' title='Menikmati Proses'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-7681270225689636859</id><published>2007-11-28T09:50:00.000+07:00</published><updated>2007-11-28T10:50:32.492+07:00</updated><title type='text'>keindahan pulau belitung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/R0zlPGTWJaI/AAAAAAAAAA8/hKDqn23nsaU/s1600-h/PB140044.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/R0zlPGTWJaI/AAAAAAAAAA8/hKDqn23nsaU/s200/PB140044.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137733322475447714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/R0zklGTWJZI/AAAAAAAAAA0/xux8gS7rtB4/s1600-h/PB140036.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/R0zklGTWJZI/AAAAAAAAAA0/xux8gS7rtB4/s200/PB140036.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137732600920941970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/R0zg02TWJYI/AAAAAAAAAAs/RNUGrc6y94Y/s1600-h/PB140031.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/R0zg02TWJYI/AAAAAAAAAAs/RNUGrc6y94Y/s200/PB140031.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137728473457370498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Sudah sebulan terakhir ini saya jarang online, dikarenakan tugas untuk mengunjungi kantor cabang kami, salah tempat yang saya kunjungi adalah pulau belitung salah satu propinsi baru di indonesia yaitu propinsi bangka-belitung (babel), tempat kelahiran dari penulis novel sastra pelangi , Andrea Hirata&lt;a href="http://sastrabelitong.multiply.com/"&gt;&lt;/a&gt;, pulau belitung dapat dicapai dengan waktu tempuh 40 menit dari bandara soekarno hatta, kemudian kita mendarat dibandara hanandjoedin (maaf kalau salah) di kota tanjung pandan, setelah seharian dikantor cabang kemudian sore harinya diajak jalan-jalan oleh teman saya ke tanjung tinggi yang memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari tanjung pandan, memang pantai di pulau belitung sangat indah dan masih original, apalagi jalanan disini jarang macet seperti di jakarta.konon kabarnya salah satu iklan lux yang dibintangin oleh dian satro berlokasi di tanjung tinggi ini. cuman sayang pantai yang seindah ini belum dikelola secara baik oleh pemda setempat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-7681270225689636859?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/7681270225689636859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=7681270225689636859' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/7681270225689636859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/7681270225689636859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/11/keindahan-pulau-belitung.html' title='keindahan pulau belitung'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/R0zlPGTWJaI/AAAAAAAAAA8/hKDqn23nsaU/s72-c/PB140044.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-7982449090419696855</id><published>2007-10-11T11:34:00.000+07:00</published><updated>2007-10-11T12:37:26.496+07:00</updated><title type='text'>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428H</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/Rw21Lhz1vYI/AAAAAAAAAAc/6YSBjBTt-uo/s1600-h/r707.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/Rw21Lhz1vYI/AAAAAAAAAAc/6YSBjBTt-uo/s320/r707.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119947561049111938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428H&lt;br /&gt;Mohon Maaf Lahir dan Batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery &amp; keluarga&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-7982449090419696855?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/7982449090419696855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=7982449090419696855' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/7982449090419696855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/7982449090419696855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/10/selamat-hari-raya-idul-fitri-1428h.html' title='Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428H'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_EVX7MxUVEvg/Rw21Lhz1vYI/AAAAAAAAAAc/6YSBjBTt-uo/s72-c/r707.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-6029213652309570851</id><published>2007-07-27T16:02:00.000+07:00</published><updated>2007-07-27T16:06:29.742+07:00</updated><title type='text'>Sekolah Kehidupan</title><content type='html'>Ada sahabat yang bercerita tentang pengalaman berwirausahanya yang berdarah-darah sehingga menimbulkan beban utang yang tidak sedikit padahal iapun sudah tidak bekerja, ada pula seorang sahabat yang bercerita kebimbangannya antara memilih untuk menjadi karyawan atau mengurusin usahanya yang sudah beromzet milyaran, bahkan beberapa kawan ada yang membentuk club 11 digit. Itulah kehidupan ada menang-kalah, sukses-gagal, sedih-gembira. Sedih-gembira menang-kalah adalah keadaan yang digambarkan oleh akal kita, jika output dari suatu proses tidak sesuai dengan keinginan kita maka akan kita katakana gagal. Terlbih lagi bagi kita yang lebih mementingkan hasil dari pada proses maka kita gagal kita akan gampang stress. Jika hasil kita tidak sesuai dengan keinginan kita maka bukan berarti kita gagal tetapi kita belajar untuk memperbaiki proses, seperti misal “seorang pengamen, tatkala ia mengamen kemudian kita langsung beri uang bukan berarti kita suka sama nyanyiannya bisa jadi kita ingin agar pengamen tersebut agar cepat-cepat pergi dari muka kita karena nyanyiannya jelek “ demikian juga dengan ALLAH ketika Dia memberi cobaan maka bukan berarti Dia tidak sayang terhadap kita justru Dia saying sama kita sehingga menunda sukses kita sehingga kita menjadi siap atau menjadi seorang yang tahan cobaan dan tidak cengeng. &lt;br /&gt;   Seharusnya kita bisa belajar untuk bersanding tidak hanya kemenangan tapi juga kekalahan, memang tidak mudah bergandengan dengan kekalahan diperlukan energi keikhlasan yang jauh lebih melimpah. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari setiap kejadian yang kita alami, tidak usah dimasukan kedalam hati tatkala kalah, tidak perlu diperlihatkan dalam wajah tatkala menang. Jika kita bisa mencapai taraf ini maka kita akan menjadi manusia yang menang selamanya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf jika tidak berkenan&lt;br /&gt;Salam FUNtastic&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra K&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;http://reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-6029213652309570851?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/6029213652309570851/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=6029213652309570851' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/6029213652309570851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/6029213652309570851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/07/sekolah-kehidupan.html' title='Sekolah Kehidupan'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-8571412933311984312</id><published>2007-07-26T13:41:00.000+07:00</published><updated>2007-07-26T13:58:44.774+07:00</updated><title type='text'>Tuhan Memungut Bunga</title><content type='html'>Zaenal sedang dalam keadaan amat membutuhkan uang, tetapi ia tidak menemukan seorang pun yang dapat meminjami uang barang sepeser pun. Karena tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat, ia pun memohon dengan amat sangat kepada ALLAH " Ya ALLAH Yang Maha Pengasih, aku memohon kepada-Mu, tolonglah hamba-Mu ini. Berilah aku uang sepuluh dinar. Jika Engkau tidak dapat memberinya secara cuma-cuma, maka aku cukup puas dengan pinjaman."&lt;br /&gt;   Zaenal belum lagi selesai berdo'a ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia lalu menyuruh istrinya untuk melihat siapa di luar. Ternyata tamunya adalah ketua RT dimana ia tinggal. "Zaenal," katanya, "kita perlu memperbaiki masjid ALLAH, pelindungmu setiap hari,mengatakan bahwa bagianmu adalah menyumbang yang sebesar lima dinar.&lt;br /&gt;   Zaenal menghela nafas dan berkata," Ya ALLAH, tinggi sekali bunga yang Engkau minta!! Engkau belum lagi meminjami aku uang dan sekarang Engkau sudah minta untuk dibayar kembali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari anekdot sufi&lt;br /&gt;Salam FUNtastic&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra K&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;http://www.reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-8571412933311984312?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/8571412933311984312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=8571412933311984312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/8571412933311984312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/8571412933311984312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/07/tuhan-memungut-bunga.html' title='Tuhan Memungut Bunga'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-3148291282875359876</id><published>2007-06-25T09:45:00.000+07:00</published><updated>2007-06-25T10:27:42.443+07:00</updated><title type='text'>Berlian di ladang sendiri</title><content type='html'>Alkisah pada zaman dahulu hidup seorang petani yang memiliki sebidang tanah pertanian. pada awalnya, lahan tersebut sangat produktif dan menghasilkan. Namun karena  sifat dasar manusia mudah tergiur untuk mendapatkan kekayaan lebih banyak secara instan, ia pun mulai mencari. Suatu hari terdengar kabar bahwa ada harta karun terpendam tidak jauh dari tempat tinggalnya sekarang, berupa biji emas. Masyarakat didaerah tersebut berbondong-bondong memburu daerah yang dimaksud termasuk petani itu. Biji itu memang ada tapi tidak banyak. Hal ini cukup membuat sang petani dan beberapa kelompok disana penasaran. Sang petani memutuskan untuk menjual tanahnya kepada orang lain. biaya hasil penjualan tanahnya tsb digunakan untuk hidup didaerah penambangan biji emas. Setelah sekian lama mencoba mendulang emas, ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Biji emas yang pernah diperolehnya adalah emas yang tidak seberapa harganya. Sang petani mulai kecewa dan putus asa. Tabungan hasil penjualan tanahnya semakin hari semakin menipis. Pada suatu ketika dalam keadaan putus asa, ia terjatuh ke dalam sungai yang arusnya deras sehingga mati tenggelam.&lt;br /&gt;   Sementara itu, orang yang membeli ladang si petani awalnya tidak terlalu serius untuk menggarap tanah yang telah dibelinya. Ia berpikir untuk investasi masa depan saaja. Hingga pada suatu hari, ketika sedang membersihkan tanah yang baru dibelinya tersebut, ia menemukan sebuah batu yang berkilat-kilat. Potongan batu tersebut kemudian dibawah ke tukang perhiasan dikota. Hasil analisis tukang perhiasan tersebut membuat ia tercengang tak percaya. Batu berkilat itu ternyata berlian dengan mutu tinggi. Secara diam-diam, ia mengumpulkan batu-batu yang ada ditanahnya dengan sedikit menggali dan menemukan berlian-berlian yang sangat banyak. Dalam waktu singkat se i petani tersebut menjadi kaya raya. Si petani yang menjual tanahnya tidak menyadari bahwa selama ini dia telah mempunyai sebidang tanah yang didalamnya terdapat banyak berlian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa tidak puas dan selalu merasa tidak cukup apalagi didorong oleh keinginan yang kuat dalam mendapatkan sesuatu secara instan, terkadang membuat tindakan yang dilakukan tidak melalui pertimbangan moral yang kuat, sebenarnya semua dari kita tentulah mengejar sesuatu yang bernama kebahagiaan akan tetapi karena kebahagiaan itu bersyarat maka kita akan sulit mewujudkannya, seharusnya kebahagiaan itu datangnya dari diri kita seperti dalam buku 7 habbitnya stephen covey semua berasal dari dalam(diri sendiri) baru kemudian keluar. sehingga sekarang pun sebenarnya kita sudah dapat berbahagia bukan nanti ketika punya rumah besar, punya mobil mewah dll. Didalam diri kita sebenarnya terdapat "berlian-berlian" yang tidak kita sadari, semoga kita semua dapat mendapatkan "berlian-berlian" tersebut.&lt;br /&gt;disadur dari buku fulfilling life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam FUNtastic&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;http://reryindra.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-3148291282875359876?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/3148291282875359876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=3148291282875359876' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3148291282875359876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3148291282875359876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/06/berlian-di-ladang-sendiri.html' title='Berlian di ladang sendiri'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-3690173060099037312</id><published>2007-06-16T11:48:00.000+07:00</published><updated>2007-06-16T11:57:02.771+07:00</updated><title type='text'>Mengapa Harus Berserah</title><content type='html'>Menagapa harus berserah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi fenomena film the secret memang luar biasa sekali. Film the secret memang film yang bagus biarpun mungkin ada nilai-nilai yang mungkin tidak sejalan, tetapi dibalik itu semua kita dapat mengambil hikmah dan manfaat dari film tersebut, yang baik kita ambil yang tidak cocok bisa kita tinggalkan, belum juga fenomena film the secret muncul buku quantum ikhlas karya pak erbe sentanu (nunu) yang mengajarkan kita mengenai positif feeling yang bermula dari hati. Sebenarnya apa yang diajarkan pak nunu memang bukanlah barang baru tetapi mungkin pemahaman dan pendalaman kita yang kurang, padahal kalau kita sebagai seorang muslim maka kita sering mendengar bahwa kalau kita niat untuk berbuat baik maka perbuatan kita akan dicatat, suatu perbuatan kita adalah tergantung dari niat kita, sehingga dapat dikatakan bahwa segala sesuatunya dimulai dari niat (hati) seperti kita sholat,puasa,zakat semua ada niatnya dimana niat ini dimulai dari hati, kita mengalami kesedihan karena akal kita bertentangan dengan hati kita jika kita bisa menyelarakan hati dan pikiran kita maka sesuatunya akan menjadi lebih indah. Selama ini mungkin kita terlalu banyak menggunakan akal sehingga jika segala sesuatunya tidak sesuai dengan akal kita maka kita akan bersedih, sebenarnya kata gembira dan sedih, baik dan buruk hanyalah ada didalam akal kita kalau kita menggunakan hati maka hal tersebut tidak ada, jadi segala sesuatunya didunia ini hanyalah karena ALLAH semata, bahwa “apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut ALLAH” sehingga kita perlu untuk berserah kepada ALLAH, seperti jika kita makan bakso dan merasa nikmat atau kenyang maka hal tersebut adalah karena ALLAH bukan karena bakso itu sendiri, seperti juga karya sastra sang pujangga maka kita mengatakan bahwa karya tersebut bukanlah karya  PENA A atau PENA B tetapi adalah karya SI A atau SI B begitu juga dengan kita semua, kita adalah “laksana PENA PENA ALLAH yang berjalan diatas dunia ini yang akan menghasilkan suatu karya besar”, maka jika hanya kepada-Nya kita berserah maka akan segala sesuatunya akan menjadi ringan, yang sedih jadi bahagia yang berat jadi ringan bahkan sakitpun akan menjadi ringan karena kita RIDHA terhadap segala sesuatu yang menimpa kita karena dibalik itu semua ada hikmahnya. Beruntunglah manusia yang dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa dan betapa bahagianya manusia yang telah mencapai level ini. Maka dimulailah dengan NIAT(HATI) dilanjutkan dengan BERUSAHA dan BERDOA kemudian kita IKHLASKAN hanya kepada ALLAH dan jangan lupa untuk BERSYUKUR dan BERSEDEKAH itulah secret of the secret.&lt;br /&gt;Untuk mamanya nadia semoga lekas sembuh.&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat mohon maaf jika tidak berkenan.&lt;br /&gt;Disadur secara bebas dari kitab ALHIKAM karya  IBN ATHA’ILLAH  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam FUNtastic &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rery Indra&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;http://reryindra.blogspot.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-3690173060099037312?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/3690173060099037312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=3690173060099037312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3690173060099037312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/3690173060099037312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/06/mengapa-harus-berserah.html' title='Mengapa Harus Berserah'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-4501412286760252398</id><published>2007-05-30T11:21:00.000+07:00</published><updated>2007-05-30T11:48:15.332+07:00</updated><title type='text'>Jiwaku Memanggilku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;JIWAKU MEMANGGILKU&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Jiwaku berkata padaku dan menasehatiku agar mencintai semua orang&lt;br /&gt;yang membenciku,dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jiwaku berkata padaku dan mengungkapkan kepadaku bahwa cinta&lt;br /&gt;itu tidak hanya  menghargai orang yang mencintai,&lt;br /&gt;tetapi juga orang yang dicintai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sejak itu bagiku cinta ibarat jaring laba-laba diantara dua bunga,&lt;br /&gt;dekat  satu sama lain;menjadi lingkaran cahaya tanpa awal&lt;br /&gt;dan tanpa akhir,melingkari apa yang telah lahir&lt;br /&gt;dan memupuk selamanya untuk merengkuh yang akan hadir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jiwaku menasehatiku dan mengajariku agar melihat kecantikan&lt;br /&gt;yang ada dibalik  bentuk dan warna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah&lt;br /&gt;ampai nampaklah keelokannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jiwaku menasehatiku dan menegurku agar menghargai waktu&lt;br /&gt;dengan mengatakan " ada hari kemarin dan ada hari esok".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Demi masa sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi&lt;br /&gt;Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.&lt;br /&gt;Dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran&lt;br /&gt;Dan nasehat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menasehati dalam kesabaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jiwaku menasehatiku dan memintaku Agar tidak merasa mulia&lt;br /&gt;karena pujian Dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan karena cacian.&lt;br /&gt;Sampai hari ini aku ragu akan harga pekerjaanku;&lt;br /&gt;Tapi sekarang aku belajar, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bahwa pohon berbunga di musim semi,&lt;br /&gt;berbuah di musim panas dan menggugurkan daun-daunnya&lt;br /&gt;di musim gugur untuk menjadi benar-benar telanjang di musim dingin?&lt;br /&gt;Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau malu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jiwaku menasehatiku dan meyakinkanku&lt;br /&gt;Bahwa aku tak lebih tinggi ketimbang cebol&lt;br /&gt;ataupun tak lebih rendah dari Raksasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sebelumnya aku melihat manusia ada dua: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Satu: Seorang yang lemah yang  kucaci dan kukasihani &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dua: Seorang yang buta yang kuikuti, maupun yang kulawan&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;dengan pemberontakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah&lt;br /&gt;yang sama dari mana semua manusia diciptakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jiwaku menasehatiku dan mengingatkanku:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Bahwa aku adalah debu dimata Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Bahwa aku adalah lemah dimataNYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Bahwa aku miskin dibanding kerajaan NYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tiada aku boleh merasa besar kecuali oleh NYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kesombongan itu hanya milikNYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dan semua yang berlangsung adalah iradatNYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tapi pernahkan kita pernah sungguh-sungguh memikirkannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Fitnah yang terjadi mana-mana bagai ular-ular tukang sihir Fir'aun&lt;br /&gt;menyebar di kota dan didesa-desa? Tercerai kita olehnya Tanpa kita sadar,&lt;br /&gt;Tanpa kita kuasa Terbius kita oleh retorika&lt;br /&gt;tanpa makna mengkotak kita dalam kebodohan yang terencana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Jiwaku menasehatiku dan menerangiku, Saudaraku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dan seringkali jiwamu menasehati dan menerangimu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Karena engkau sama seperti diriku, dan tiada beda diantara kita&lt;br /&gt;Kujaga apa yang kukatakan dalam diriku ini dalam kata-kata yang&lt;br /&gt;kudengar dalam heningku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dan engkau sahabatku jagalah apa yang ada dalam dirimu,&lt;br /&gt;dan engkau adalah  penjaga yang sama baiknya seperti banyak&lt;br /&gt;kukatakan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Wahai sahabatku semoga sisa hidupmu menjadi hidup yang penuh arti&lt;br /&gt;dan bermanfaat dan pintu hatimu terbuka untuk menerima cahayaNYA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rery indra&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-4501412286760252398?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/4501412286760252398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=4501412286760252398' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/4501412286760252398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/4501412286760252398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/05/jiwaku-memanggilku.html' title='Jiwaku Memanggilku'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1580044627739419399.post-2935736364033275410</id><published>2007-05-30T10:44:00.000+07:00</published><updated>2007-06-01T14:54:58.039+07:00</updated><title type='text'>Life Is Beautiful</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:black;"  &gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pada suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 orang istri. Dia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;mencintai istri yang keempat, dan menganugerahinya harta dan kesenangan yang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;banyak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:black;"  &gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sebab, dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;selalu memberikan yang terbaik&lt;br /&gt;buat istri keempatnya ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pedagang itu juga mencintai istrinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;istrinya ini, dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita ini kepada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;semua temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dengan pria yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Begitu juga dengan istri yang kedua. Ia pun sangat menyukainya. Ia adalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;selalu menolong dan mendampingi suaminya, melewati masa-masa yang sulit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Berbeda halnya dengan istri yang pertama, sang pedagang, tak begitu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;mencintainya. Meskipun istri pertama ini begitu sayang padanya dan sangat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;setia. Dia yang selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini, serta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sang suami.&lt;br /&gt;Namun,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;pedagang ini  tak begitu mempedulikannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;hati. "Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;istri keempatnya. "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:black;"  &gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;maukah kau mendampingiku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan menemaniku?" Ia terdiam.&lt;br /&gt;"Tentu saja tidak" jawab istri keempat, dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.&lt;br /&gt;Jawaban itu sangat menyakitkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan&lt;br /&gt;mengiris-iris hatinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. "Akupun mencintaimu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan menemani akhir hayatku?" Istrinya menjawab "Hidup begitu indah disini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Aku akan menikah lagi jika kau mati". Sang pedagang begitu terpukul dengan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. "Aku selalu berpaling padamu setiap&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku?"&lt;br /&gt;Sang istri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;menjawab pelan. "Maafkan aku," ujarnya "Aku tak bisa menolongmu kali ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja.&lt;br /&gt;Nanti, akan kubuatkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;makam yang indah buatmu".&lt;br /&gt;Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;pedagang kini merasa putus asa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;bersamamu". Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, "Kalau saja,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;ini, istriku."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Teman, sesungguhnya kita punya 4 orang istri dalam hidup ini. Istri yang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita  meninggal,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kita yang pernah memilikinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;selamanya. Hanya sampai  kuburlah mereka akan menemani kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah&lt;br /&gt;yang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak. Jadi, selagi mampu,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="HTMLTypewriter2"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;belakangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Rery Indra&lt;br /&gt;TNM-E20&lt;br /&gt;www.reryindra.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1580044627739419399-2935736364033275410?l=reryindra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reryindra.blogspot.com/feeds/2935736364033275410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1580044627739419399&amp;postID=2935736364033275410' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/2935736364033275410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1580044627739419399/posts/default/2935736364033275410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reryindra.blogspot.com/2007/05/life-is-beautiful.html' title='Life Is Beautiful'/><author><name>Rery Indra Kusuma</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09715399556097854128</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
